Macam-Macam Ucapan Salam Dalam Bahasa Jawa (Bag.1)

Hari ini saya akan membahas tentang macam-macam ucapan salam dalam Bahasa Jawa. Mungkin ada di antara teman-teman yang masih baru salam berbahasa Jawa sehingga sangat penting untuk mempelajari berbagai frase bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia ini.

Saya akan membagi menjadi dua bagian sehingga nanti masih ada lanjutan posting mengenai bab yang sama.



INDONESIA
JAWA
Selamat pagi!
Sugeng enjing! / Wilujeng enjing!
Selamat siang!
Sugeng siang! / Wilujeng siang!
Selamat sore!
Sugeng sonten! / Wilujeng sonten!
Selamat malam!
Sugeng dalu! / Wilujeng dalu!
Selamat datang!
Sugeng rawuh!
Apa kabar?
Piye kabare? / Pripun kabaripun? / Kados pundi pawartosipun?
Baik, terima kasih
Apik, matur nuwun / Sae, matur nuwun
Dan kamu?
Lha kowe? / Panjenengan? / Sampeyan?
Baik
Apik
Tidak begitu bagus / biasa saja
Biasa wae
Lama tidak jumpa
Suwe ora ketemu
Saya rindu  kamu
Aku kangen kowe
Ada kabar apa?
Ana kabar apa?
Terima kasih!
Matur nuwun!
Sama-sama
Padha-Padha / Sami-sami
Mari silakan masuk!
Mangga, pinarak!

Itu dulu ya teman-teman, InsyaAllah lain waktu saya akan sambung lagi bahasan ucapan-ucapan salam dalam Bahasa Jawa ini.

Matur nuwun :)

Apa Itu Kalawarti dan Ariwarti?

Jumpa lagi Dulur, para pecinta Bahasa Jawa :)

Terima kasih atas atensi Dulur-Dulur semua yang merasa memiliki bahasa ini. Kali ini saya akan membahas tentang Kalawarti dan Ariwarti.

Kalawarti yaitu surat kabar berbahasa Jawa yang diterbitkan tidak setiap hari. Sedangkan Ariwarti adalah surat kabar berbahasa Jawa yang terbit setiap hari.

Kalawarti dan Ariwarti menjadi alat untuk menghidupkan dan melestarikan kesusastraan Jawa karena banyaknya karya sastra Jawa yang dikutip di dalamnya. Oleh karena itu, pada angkatan tahun 50-an, juga disebut sebagai sastra majalah.

Menurut waktu terbitnya, kalawarti/ariwarti bisa dinamakan antara lain : dwikala (terbit dua kali sebulan), saptawarti (surat kabar mingguan), dasawarti (terbit setiap sepuluh hari), candrawarti (surat kabar bulanan) dan sebagainya.

Berikut ini adalah contoh-contoh Kalawarti dan Ariwarti yang pernah terbit :


  1. Kejawen (1926)
  2. Bromartani (1885)
  3. Jurumartani (1886)
  4. Dharmo Kondho (1899)
  5. Retno Dunilah (1895)
  6. Pustakawarti (1922)
  7. Mawa (1922)
  8. Pangunggah (1917)
  9. Budi Utomo (1920)
  10. Sedyo Utomo (1925)
  11. Jawi Kondho (1924)
  12. Jawi Hisworo (1924)
  13. Pustaka Jawi (1922)
  14. Sasadara (1931)
  15. Candra Kanta (1933)
  16. Panyebar Semangat (1933)
  17. Panji Pustaka (1943)
  18. Krama Duta (1931)
  19. Wara Darma (1931)
  20. Islam Bergerak (1917)

Keterangan :

a) Panyebar Semangat (edisi Surabaya) masih terbit hingga sekarang.
b) Darmo Kondho yang dimaksud di atas bukanlah Dharma kandha yang sekarang masih terbit.

Saya juga akan membagikan nama-nama Kalawarti dan Ariwarti menurut kota terbitnya :

Edisi Jakarta


  1. Mardika (1967)
  2. Kumandhang (1973)
  3. Kunthi (1970)
  4. Pancasila
  5. Darmajati (2005)


Edisi Yogyakarta


  1. Waspada (1952), sudah dibekukan
  2. Kembang Brayan (1966)
  3. Joko Lodhang (1967)
  4. Mekarsari (1950)
  5. Rara Jonggrang
  6. Praba (sekarang sudah ganti Peraba memakai ejaan Bahasa Indonesia)
  7. Kandha raharja (lampiran koran Kedaulatan Rakyat)


Edisi Semarang


  1. Pustaka Candra (dikeluarkan Depdikbud)


Edisi Surakarta


  1. Dharma Nyata
  2. Parikesit (1971)
  3. Pradhapa
  4. Gumregah
  5. Candrakirana (1964)
  6. Darma Kandha (1970)
  7. Mbangun Tuwuh (1980)


Edisi Surabaya


  1. Kekasihku
  2. Gotong Royong (1963)
  3. Tuladha (1967)
  4. Jayabaya (1945)
  5. Panyebar semangat (1933)
  6. Cendrawasih (1957)
  7. Crita Cekak (1955)
  8. Panakawan (1951)
  9. Jawi Anyar (1952)


Catatan :

Kalawarti dan Ariwarti yang disebut di atas ada yang sudah tidak terbit.

Demikian Dulur, semoga tulisan yang saya bagikan kali ini bermanfaat buat Panjenengan semua.

Nuwun :)

Nama-Nama Hari Dalam Bahasa Jawa

Jumpa lagi dulur setelah sekian lama vakum dalam mengisi tulisan di blog ini. Kali ini, saya ada kesempatan untuk menulis dan bahasannya adalah nama-nama hari dalam Bahasa Jawa.

Dalam kalendar Jawa, ada dua macam hari yaitu Saptawara dan Pancawara. saptawara terdiri dari tujuh hari seperti pada bulan-bulan Masehi. Sedangkan Pancawara terdiri dari lima hari, yang juga sering disebut Dina Pasaran (Hari Pasaran).

Apa saja nama-nama hari tersebut?

1) Saptawara

  • Senen (Hari Senin)
  • Selasa (Selasa)
  • Rebo (Rabu)
  • Kemis (Kamis)
  • Jemuwah (Jum'at)
  • Setu (Sabtu)
  • Ahad (Minggu)

2) Pancawara

  • Paing
  • Pon
  • Wage
  • Kliwon
  • Legi

Hari-hari / Dina Pasaran (Pancawara) ini sering digunakan untuk nama-nama pasar seperti Pasar Pon, Pasar Kliwon, dan Pasar Legi.

Bagaimana, apakah ditempat-tempat Sedulur masih banyak yang menggunakan hari-hari berdasarkan kalendar Jawa di atas?

Contoh Terjemahan Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia (Bag.2)

Bahasa Jawa :

Atusan warga nunggu arak-arakan gunungan Grebeg Mulud kang diarak saka Kraton tumuju ing Mesjid Gedhe Kauman, Selasa (14/1/2014). Ana ing sak tengahing atusan warga iku, akeh para sesepuh kang melu ngalap berkah rebutan Gunungan.

Astuti, 52, wiwit saka tabuh enem esuk wus teka ing Mesjid Gedhe Kauman, kang mapan ana ing iring kulon Alun-alun Lor Kraton Ngayogyakarta. Karep krentege wus cetha yaiku nunggu gunungan Grebeg Mulud kang bakal dikirab saka Siti Hinggil Kraton Ngayogyakarta tumuju Mesjid gedhe Kauman, udakara tabuh 09.30 WIB.

Saka omahe ing Nogotirto, Gamping, Sleman, Astuti numpak sepeda. Karepe cetha yaiku sedya kepingin melu ngalab berkah ing pungkasane Pahargyan Sekaten. Lan karep sedyane Astuti kasembadan. Nalika atusan warga padha rebutan gunungan, dheweke kayadene oleh berkah nalika ana nom-noman kang menehi thiwul ayu marang dheweke. “Wau wonten mas-mas saged mlebet ing njero gunungan, lajeng kula dipendhetke tiwul ayu menika,” ngono ujare Astuti.

Cuplikan sebagian teks di atas diambil dari situs solopos.com . Ini hanya sebagai contoh.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia :

Ratusan warga menunggu iring-iringan gunungan Grebeg Mulud yang diarak dari Keraton menuju Mesjid Gedhe Kauman, Selasa (14/1/2014). Di tengah-tengah ratusan warga tersebut, banyak orang tua yang ikut ngalap berkah rebutan Gunungan.

Astuti, 52, sejak dari pukul enam pagi sudah tiba di Mesjid Gedhe Kauman yang terletak di sebelah barat Alun-Alun Lor Kraton Ngayogyakarta. Tujuannya sudah jelas yaitu menunggu gunungan Grebeg Mulud yang akan dikirab dari Siti Hinggil Kraton Ngayogyakarta menuju Mesjid Gedhe Kauman dimulai pukul 09.30 WIB.

Dari rumahnya di Nogotirto, Gamping, Sleman, Astuti naik sepeda. Tujuannya yaitu ingin ikut ngalap berkah di akhir acara sekaten. Dan keinginan Astuti terlaksana. Ketika ratusan warga saling berebut gunungan, dia seperti dapat berkah ketika ada anak muda yang memberi thiwul ayu kepadanya. " Tadi ada mas-mas bisa masuk ke dalam gunungan, lalu saya diambilkan tiwul ayu ini", ujar Astuti.

Demikian seri contoh terjemahan Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia. Saya yakin masih ada kekurangan dalam penerjemahan ini. Nanti akan saya update dengan kosa katanya.

Matur nuwun :)

Apa Itu Cangkriman?

Cangkriman ( badhean, batangan ) dalam bahasa Indonesia disebut tebak-tebakan. Artinya kata-kata atau ungkapan yang harus ditebak maksudnya / artinya, karena kata-kata atau ungkapan tadi memiliki arti tidak sebenarnya.

Cangkriman terbagi menjadi :

A) Cangkriman Wancahan (Cekakan) / singkatan

Contoh :

1. Pakboletus : tepak kebo, lelene satus
2. Paklawa     : tepak ula dawa
3. Pak kenthik : tepak teken mung sithik
4. Burnas kopen : bubur panas kokopen
5. Rangsinyu muksitu : jurang isi banyu, gumuk isi watu.

B) Cangkriman Pepindhan / Perumpamaan
Yang dijadikan perumpamaan biasanya hewan atau bagian tubuh.

Contoh :

1. Sega sakepel dirubung tinggi = salak
2. Putri melik-melik sendhen kayu legi = jagung
3. Pitik walik saba kebon = nanas
4. Gajah nguntal sangkrah = pawon / dapur
5. Kebo bule cancang merang = buntil
6. Anake gelungan ibune ngrembyang = pakis
7. Yen anake siji ibune loro, yen ibune siji anake loro, yen ibune telu ora duwe anak = salak
8. Pitik putih ngendhog ing segara getih = manggis
9. Dipijet wudele, mripate mendelik = lampu senter

C) Cangkriman Tembang
Cangkriman yang terdapat dalam sebuah syair tembang / lagu.

Contoh :
 Lagu "Pucung"

Bapak pucung, rupane saengga gunung
tan ana kang tresna,
kabeh uwong methi sengit,
yen kanggonan dilus-elus tinangisan (tebakannya = wudun / bisul)

Bapak pucung, putrane baka lan biyung
nanging dudu kakang, dudu mbakyu dudu adhi, lah batangen bapak pucung iku sapa (tebakannya aku dhewe / aku sendiri)

D) Cangkriman Blenderan / Plesetan

Contoh :

1. Aku mau weruh ana bakul mbako padha diambungi
"sing diambungi mbako, dudu bakule"
2. Yen kerep wudunen kuwi bisa sugih pari
"sugih pringisan"
3. Ing pasar aku weruh ana bakul klapa dikepruki
"sing dikepruki klapane, dudu bakule"
4. Yen layat ing kuburan aja melu mendhem
"sing mendem ya sing ngombe arak dudu sing layat"
5. Aku weruh ana montor mbalik, kok penumpange ora padha tatu.
"hla ya bae, wong saka kidul arep ngalor kudu mbalik djisik"
6. Yen bis utawa mbil menggok ngiwa, ban endi sing ora mubeng?
"ban serep"

Sekian Dulur, saya sudah membagikan macam-macam Cangkriman. Semoga memberi manfaat bagi Anda semua.

Matur nuwun :)

Mari Membahas Apa itu Rura Basa?

Salam Dulur-Dulur sedaya, sudah lama tidak memposting bahasan belajar bahasa Jawa. Kali ini, saya akan membahas mengenai Rura Basa.

Rura berarti rusak atau salah. Rura Basa artinya bahasa yang rusak atau salah tapi jika dibetulkan menjadi semakin salah. Oleh karena itu, rura basa sering juga disebut kata-kata yang salah kaprah.

Contoh :

Nguleg Sambel

Kata "Nguleg Sambel" ini sebenarnya tidak benar. Yang benar adalah nguleg lombok / cabe, uyah / garam, terasi, bumbu masak dan lain-lain agar jadi sambel. Tapi, jika dibetulkan seperti itu malah jadi aneh, terlalu panjang dan mungkin akan ditertawakan.

Contoh lainnya :

1. Nunggoni Pitik (Menunggui Ayam)
Arti sebenarnya menjaga tanaman padi agar tidak dimakan ayam.

2. Nggodhog Wedang (Merebus Minuman)
Arti sebenarnya merebus air untuk dibuat minuman.

3. Menek Krambil (Naik Kelapa)
Arti sebenarnya naik pohon kelapa.

4. Negor Gedhang (Menebang Pisang)
Arti sebenarnya menebang pohon pisang.

5. Nandur kembang (menanam bunga)
Arti sebenarnya menanam biji atau tanaman bunga.

6. Nulis layang (menulis surat)
Arti sebenarnya menulisi kertas dengan tinta hingga menjadi sebuah surat.

7. Ngliwet sega (menanak nasi)
Art sebenarnya menanak beras supaya jadi nasi.

Itu saja ya Dulur contoh-contoh Rura Basa yang bisa saya bagikan kali ini. Masih banyak contoh-contoh lainnya, mungkin ada di antara Anda yang dapat menambahkan, silakan tambahkan di kolom komentar.

Matur Nuwun :)

Mari Mengenal Istilah Bocah Sukerta

Jumpa lagi Dulur :)

Apa kabarnya? Semoga Gusti Allah selalu memberi keselamatan dan kesehatan bagi Anda semua.

Saya mau membagikan tulisan mengenai Bocah Sukerta.

Menurut kepercayaan orang Jawa, ada istilah Bocah Sukerta yang berarti seorang anak atau bocah bisa selamat dan hidup harus diruwat dengan slametan, sesaji dan mengadakan pentas wayang kulit dengan lakon "Murwa kala".

Jika sudah diruwat, bocah sukerta tadi bisa tidak menjadi mangsa Bathara Kala sehingga bisa selamat hidupnya. Boleh percaya, boleh tidak ya :) , saya hanya membagikan sebuah pengetahuan di sini.

Nama-nama bocah sukerta:

1. Bocah ontang-anting : anak laki-laki satu-satunya / tunggal tidak punya saudara
2. Bocah unting-unting : anak perempuan satu-satunya / tunggal tidak punya saudara
3. Bocah uger-uger lawang : anak dua bersaudara lelaki semua
4. Bocah kembang sepasang : anak dua bersaudara perempuan semua
5. Bocah Cukul Dhulit : anak tiga bersaudara perempuan semua
6. Bocah gotong mayit : anak tiga bersaudara laki-laki semua
7. Bocah saka panggung : anak empat bersaudara laki-laki semua
8. Bocah sarimpi : anak empat bersaudara perempuan semua
9. Bocah pandhawa : anak lima bersaudara laki-laki semua
10. Bocah pancagati : anak lima bersaudara perempuan semua
11. Bocah kedhana-kedhini : anak dua bersaudara laki-laki dan perempuan
12. Bocah sendhang kapit pancuran : anak tiga bersaudara, dua laki-laki satu perempuan. Anak perempuan di tengah ( laki-laki-perempuan-laki-laki)
13. Pancuran kapit sendhang : anak tiga bersaudara, dua perempuan satu laki-laki. Anak laki-laki di tengah (perempuan-laki-laki-perempuan)
14. Bocah kembar : anak kembar
15. Bocah dhampit : anak kembar laki-laki dan perempuan
16. Bocah gondhang kasih : anak kembar beda warna kulit
17. Bocah ipil-ipil : anak lima, satu perempuan empat laki-laki
18. Bocah podangan : anak lima, satu laki-laki empat perempuan
19. Bocah jempina : anak lahr sebelum waktunya
20. Bocah julung caplok : anak lahir bersamaan dengan terbenamnya matahari
21. Bocah julung kembang : anak lahir bersamaan dengan terbitnya matahari
22. Bocah julung sungsang : anak lahir di tengah hari

Setelah membaca macam-macam bocah sukerta di atas, kira-kira Anda masuk yang mana hehehe ( tanpa harus percaya dengan kepercayaannya ya).

Salam hormat buat semua ;)

Mari Kita Membahas Apa Itu Tembung Entar

Sudah satu minggu dulur tidak update tulisan di blog Komunitas Belajar Bahasa Jawa ini. Kali ini saya akan membahas tentang apa itu tembung entar.

Tembung entar artinya kata-kata yang memiliki arti yang bukan sebenarnya. Kita mengenalnya dalam bahasa Indonesia sebagai kata kiasan. 

Di bawah ini adalah contoh-contoh tembung entar :

1. Adus kringet  artinya kerja keras
2. Abang kupinge  artinya marah
3. Kethul atine artinya bodoh
4. Cepak rejekine artinya mudah cari sandang pangan atau penghidupan
5. Cilik atine artinya sifat penakut dan khawatir
6. Dawa tangane artinya senang mengambil barang orang lain
7. Empuk rembuge artinya mudah diajak bicara, diskusi
8. Gedhe endhase artinya sombong
9. Jembar segarane artinya sifat suka pemaaf
10. Kandel kupinge artinya tidak mau menurut perkataan orang lain, bandel
11. Lobok atine artinya sabar
12. Lunyu ilate artinya plin plan
13. Ngangsu kawruh artinya mencari ilmu, sekolah
14. Nggadho ati artinya membuat susah
15. Oleh ati artinya mendapat perhatian, diperhatikan, disenangi orang lain
16. Peteng pikirane artinya susah
17. Rai gedheg artinya tidak punya malu
18. Sepi ing kawruh artinya sedikit ilmunya, tidak punya akal
19. Kagugah atine artinya sabar, sadar, ingat
20. Gedhe tekade artinya pantang mundur
21. Enthengan tangan artinya senang menyakiti orang lain
22. Entheng tangane artinya senang berbuat sesuatu, suka menolong

Anda sekarang sudah mengetahui arti tembung entar, dimana saya juga sudah memberikan contoh-contohnya. Walaupun hanya beberapa contoh saja, tapi semoga bisa bermanfaat untuk Anda semua.

Matur nuwun :)

Mari Mengenal Apa Itu Tembung Saroja

Halo dulur, ketemu maneh, kepriye kabare Jenengan? Mugi-mugi Gusti Allah tansah paring kasarasan dhumateng Panjenengan sedaya.
( Halo saudara, berttemu lagi, bagaimana kabar Anda? Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan kepada Anda semua ) :)

Kali ini saya akan membahas mengenai apa itu tembung saroja.

Saroja sendiri berarti rangkep atau rangkap. Sedangkan tembung saroja artinya dua kata yang sama maknanya digabung menjadi satu.

Berikut ini adalah contoh-contoh tembung saroja :

1. Sanak sedulur
2. Tanggateparo
3. Was sumelang
4. Lara lapa
5. Terang tarwaca
6. Dhawuh timbalan
7. Wadya bala
8. Andhap asor
9. Tumpang tindhih
10. Gagah prakosa
11. Tambal sulam
12. Duga kira
13.Tepa slira
14. Edi peni
15. Adi luhung
16. Gulung koming
17. Angkara murka
18. Babak belur
19. Bagas waras
20. Bala kuswa
21. Bagas waras
22. Colong jupuk
23. Gandes luwes
24. Jalma manungsa
25. Japa mantra
26. Gemah ripah
27. Loh jinawi
28. Sayuk rukun
29. Welas asih
30. Remuk rempu
31. Pait getir
32. Mula buka
33. Tukar padu
34. Akal budi
35. Ayem tentrem

Seperti yang sudah Anda baca di atas, banyak sekali contoh-contoh tembung saroja yang banyak ditemui dalam percakapan sehari-hari, berita berbahasa jawa maupun dalam bahasa tulisan.

Semoga bermanfaat :)

Contoh Percakapan Dalam Bahasa Jawa (bag.3)

Nampaknya, contoh percakapan dalam Bahasa Jawa banyak dicari. Oleh karena itu, saya mengutipkan penggalan cerita yang saya ambil dari rubrik Jagad Jawa Solopos.com.

Saya juga merangkum kosakata (vocabulary) bahasa Jawanya lengkap dengan terjemahan ke bahasa Indonesia.


Bahasa Jawa

Aku karo kanca-kanca ngebut. Tekan sekolahan, aku karo kanca-kanca telat. Upacara wis dianyaki. Gerbang sekolah wis ditutup. Aku karo kanca-kanca bingung. Ngenteni upacara rampung lan aku karo kanca-kanca lagi bisa mlebu. Aku karo kanca-kanca didukani bapak guru, lan diukum dhedhe ning tengah latar sekolah nganti sak jam.

Sawise bubaran sekolah lan tekan omah, ganti klambi, maem lan mangkat ngarit suket kanggo wedhusku.

“Cup…, Cup…, Ucup… ayo ngarit!” aku mbengok ngejak Ucup ngarit.

“Ya, enteni sedhela, Ki!” saurane Ucup.

Aku ngenteni Ucup ing dalan ngarep omahe. Ora sengaja aku weruh slebaran sing nemplek ing pager. Slebaran kuwi isine pengumuman arep diadani sepeda santai. Adicara sepeda santai iki diadani minggu ngarep. Wiwitane saka ngarep balai desa.

”Ayo Ki,” Ucup ngajak mangkat.

”Ayo, suwe banget ta, Cup?” pitakonku marang Ucup.

”Lagi maem kok, Ki,” jawabe Ucup.

”Cup, aku mau ngerti pamflet tememplek ing pager ngarep omahmu. Isine acara sepeda santai minggu ngarep sing kawiwitan ing ngarep balai desa, Cup. Ayo melu ndhaptar, Cup!” pangajakku.

”Hla, apa kowe apa duwe pit, Ki? Kok ngejak melu sepeda santai?” pitakone Ucup.

“Iya..ya..hemmmm, piye ya, Cup?” imbuhku.

“Ya wis, ayo ngarit dhisik, Ki. Sepeda santai dipikir sesuk wae,” Ucup ngejak mangkat.

Salebare ngarit aku mulih lan adus. Kaya biyasane wayah wengi aku sinau lan terus kepikiran sepeda santai. Aku banjur matur karo ibu.

”Bu, nyuwun sepedha anyar…!” aku nyuwun karo ibu.

”Ibu durung duwe dhuwit, Le.”

“Nggih pun, Bu. Mboten napa-napa.”

“Kok kadingaren njaluk pit ta, Le? Kanggo apa? Yen sekolah ya mbonceng kanca-kancamu ta?”

”Nggih, Bu. Kula nyuwun sepedha kangge tumut sepeda santai minggu ngajeng lan kangge sekolah.”

”Ibu lagi ora duwe dhuwit, Le. Ngene wae, ning pawon kae ana pit kebo tinggalane Bapakmu, kae diresiki, dikumbah, Le.”

“Nanging sampun lawas Bu. Kuna. Gek teyengen malih.”

”Ya diresiki ta, Le. Rasah gengsi, ngerti kahanane ibu, sakanane wae, Le.”

”Nggih, Bu…”

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Saya dengan teman-teman ngebut.  Tiba di sekolah, saya dan teman-teman terlambat. Upacara sudah dimulai. Gerbang sekolah sudah ditutup. Saya dan teman-teman bingung. Menunggu upacara selesai dan saya dengan teman-teman baru bisa masuk. Saya dan teman-teman dipanggil Bapak Guru, dan dihukum dijemur di tengah halaman sekolah sampai satu jam.

Setelah selesai sekolah dan tiba di rumah, ganti baju, makan dan berangkat mencari rumput untuk kambingku.

“Cup…, Cup…, Ucup… ayo cari rumput!” saya berteriak mengajak Ucup mencari rumput.

“Ya, tunggu sebentar, Ki!” sahut Ucup.

Saya menunggu Ucup di jalan depan rumahnya. Tidak sengaja saya mengetahui selebaran yang menempel di pagar . Selebaran itu isinya pengumuman akan diadakan sepeda santai. Acara sepeda santai ini  diadakan minggu depan. Mulainya dari depan balai desa.
 
”Ayo Ki,” Ucup mengajak berangkat.

”Ayo, lama banget sih, Cup?” tanyaku kepada Ucup.

”Baru makan kok, Ki,” jawab Ucup.

”Cup, saya tadi membaca pamflet yang menempel di pagar depan rumahmu. Isinya acara sepeda santai minggu depan yang dimulai di depan balai desa, Cup. Ayo ikut mendaftar, Cup!” ajak saya.

”Lha, apa kamu punya sepeda, Ki? Kok mengajak ikut sepeda santai?” tanya Ucup.

“Iya..ya..hemmmm, gimana  ya, Cup?” tambahku.

“Ya udah, ayo cari rumput dulu, Ki. Sepeda santai dipikir besok saja,” Ucup mengajak berangkat.

Setelah mencari rumput saya pulang dan mandi. Seperti biasanya waktu malam saya belajar dan selalu kepikiran sepeda santai. Saya, kemudianbilang ke ibu.

”Bu, minta sepeda baru…!” aku minta kepada ibu.

”Ibu belum punya uang Nak.”

“Ya sudah, Bu. Tidak apa-apa.”

“Kok tumben minta sepeda Nak? Untuk apa? Kalau sekolah ya mbonceng teman-temanmu kan?”

”Iya, Bu. Saya minta sepeda untuk ikut sepeda santai minggu depan dan buat sekolah.”

”Ibu sedang tidak punya uang Nak. Begini saja, di dapur sana ada sepeda kebo peninggalan Bapakmu, itu dibersihkan, dicuci, Nak.”

“Tapi sudah lama Bu. Kuno. Sudah karatan lagi.”

”Ya dibersihkan to, Nak. Tidak usah gengsi, mengertilah keadaan ibu, seadanya saja, Nak.”

”Ya, Bu…”

Daftar Kosakata



JAWA
INDONESIA
JAWA
INDONESIA
Aku
Saya
Tengah
Tengah
Karo
Dengan
Latar
Halaman
Kanca
Teman
Nganti
Sampai / Hingga
Tekan
Sampai / Tiba
Sak Jam
Satu Jam
Telat
Terlambat
Sawise
Sesudah
Wis
Sudah
Bubaran
Selesai
Dianyaki
Dimulai
Omah
Rumah
Ngenteni
Menunggu
Klambi
Baju
Rampung
Selesai
Maem
Makan
Lagi
Baru / Sedang
Mangkat
Berangkat
Mlebu
Masuk
Ngarit Suket (istilah)
Mencari Rumput
Didukani (Krama Alus)
Dipanggil
Suket
Rumput
Dhedhe
Berjemur
Kanggo
Untuk / Bagi
Ning / Ing
Di
Wedhus
Kambing
Mbengok
Berteriak
Ngejak
Mengajak
Enteni
Tunggu
Sedhela
Sebentar
Saurane
Jawabannya
Dalan
Jalan
Ngarep
Depan
Ora
Tidak
Sengaja
Sengaja
Weruh
Tahu / Mengetahui
Sing
Yang
Nemplek
Menempel
Pager
Pagar
Kuwi
Itu
Arep
Akan
Diadani
Diadakan
Adicara
Acara
Iki
Ini
Wiwitane
Mulainya
Saka
Dari
Suwe
Lama
Banget
Sekali
Pitakon
Pertanyaan
Mau
Tadi
Ngerti
Tahu
Melu
Ikut
Apa
Apa
Kowe
Kamu
Duwe
Punya
Pit
Sepeda Angin
Piye
Bagaimana
Sesuk
Besok
Wae
Saja
Mulih
Pulang
Adus
Mandi
Kaya
Seperti
Biyasa
Biasa
Wayah
Waktu
Bengi
Malam
Sinau
Belajar
Lan
Dan
Terus
Selalu
Banjur
Kemudian
Matur (Krama Alus)
Bilang
Nyuwun (Krama Alus)
Minta
Anyar
Baru
Durung
Belum
Dhuwit
Uang
Nggih / Inggih (Krama Alus)
Iya
Mboten (Krama Alus)
Tidak / Bukan
Napa-Napa (Krama Alus)
Apa-apa
Kadingaren
Tumben
Njaluk (Ngoko)
Minta
Yen
Kalau / Jika
Kula (Krama Alus)
Saya
Kangge (Krama Alus)
Untuk / Buat
Tumut (Krama Alus)
Ikut
Ngejeng (Krama Alus)
Depan
Ngene
Begini
Pawon
Dapur
Kae
Itu
Ana
Ada
Kebo
Kerbau
Tinggalan
Peninggalan
Diresiki (resik)
Dibersihkan (bersih)
Dikumbah (kumbah)
Dicuci (cuci)
Nanging
Tapi
Sampun (Krama Alus)
Sudah
Lawas
Lama
Teyengen
Berkarat / Karatan
Malih (Krama Alus)
Lagi
Rasah ( Ora Usah)
Tidak Usah
Kahanan
Keadaan
Sakanane
Seadanya


Terima kasih untuk sumber percakapan dari Solopos.com :)

Semoga bermanfaat,

Matur Nuwun