Selamat Datang Saudara! Sugeng Rawuh Para Sedulur!

Halo saudara-saudara di seluruh dunia, namaku Andi Suroso. Yah, dari namanya pastilah aku orang Jawa dan itu emang bener. Aku asli Jawa tinggal di Solo, Jawa Tengah. Kalau denger nama Solo pastilah kental dengan yang namanya bahasa Jawa. Nah, di sini aku ingin membagi pengetahuanku tentang bahasa Jawa sebagai bahasa ibu yang perlu kita lestarikan selain bahasa nasional saya dan saudara-saudara.

Versi Jawa:
Halo para sedulur sak donya, jenengku Andi Surasa. Ya, nek disawang saka jenenge mesti aku wong Jawa, iku pancen bener. Aku asline Solo ana ing provinsi Jawa Tengah. Nek sedulur ngrungokne tembung Solo mesti isih kenthel karo sing jenenge basa Jawa. Dadi, aku ning kene, pengin mbagi pengetahuanku bab basa Jawa sing kudu awake dhewe kabeh kudu nguri-uri kajaba basa nasional ku lan sedulur kabeh.

Aku bukan orang ahli sastra Jawa, tapi aku hanya ingin membagi apa yang aku praktikkan sehari-hari.

Yang pengin koment silakan lah, isi di kotak koment.

Teknik Pengucapan Bunyi Vokal Bahasa Jawa (bag.2)

Pada postingan sebelumnya saya sudah membahas tentang teknik pengucapan bunyi vokal huruf "a". Sekarang kita akan menuju pada pengucapan vokal "i".

Teknik pengucapan vokal "i" ada 2 macam:

1. Vokal "i" dibaca "i" seperti pada kata "ikan, ilalang, miyabi"
Biasanya teknik pertama ini, hurufvokal "i" tidak diikuti huruf konsonan mati. Berikut ini adalah beberapa contoh kosakata dalam bahasa Jawa yang menggunakan vokal "i" dibaca "i":
Note: Huruf "i" saya tulis standar sebagai tanda bacanya.
- kali dibaca "kali" berarti sungai
- lali dibaca "lali" berarti lupa
- mburi dibaca "mburi" berarti belakang
- iwak dibaca "iwak" berarti ikan
- bali dibaca "bali" berarti kembali
- wedi dibaca "wedi" berarti takut
- wedhi dibaca "wedhi" berarti pasir

2. Vokal "i" dibaca "e" seperti pada kata "lele dan lebar"
Biasanya teknik bunyi kedua ini huruf vokal "i" selalu diikuti/diakhiri dengan huruf konsonan mati. Contoh:
Note: Huruf "i" saya tulis tebal sebagai tanda bacanya.
- Kuping dibaca "kupeng" berarti telinga
- sikil dibaca "sikel" berarti kaki
- miring dibaca "mireng" berarti condong
- lirih dibaca "lireh" berarti pelan
- kirim dibaca "kirem" berarti hantar
- winih dibaca "wineh" berarti benih
- jirih dibaca "jireh" berarti takut
Nah, Anda dapat mencoba teknik pengcapan huruf vokal "i" berulang-ulang. Pada postingan berikutnya saya akan membahas teknik pengucapan vokal "u".

1 comment:

  1. Mas, untuk mempermudah kenapa tidak menggunakan aksen saja? Akan lebih mudah dimengerti jika menggunakan aksen daripada menebalkan huruf :)

    contoh:

    - å untuk "måcå"
    - á untuk "prákårå"
    - a untuk "dalan"
    - ê untuk "mênêng"
    - é untuk "séjé"
    - è untuk "yèn"
    - i untuk "bathi"
    - í untuk "mulíh"
    - u untuk "urang"
    - ú untuk "mabúr"
    - o untuk "obah"
    - ó untuk "wóng"

    ReplyDelete